MAIN MENU
Pencarian
Cari:
Link Lain
ittelkom

blog
portal mahasiswa stttelkom
smbb
smbb
bulletin tell
hmti
perpustakaan stttelkom
astacala
fast

iecommitt

sisfo ittelkom

bem

ypt telkom

iFACE
Detail

Akrab dengan Career Center

cdc stttelkom "Dulu, saya takut ketika selesai wisuda dan besok paginya bangun, lalu dunia terasa gelap karena mikirin saya kerja di mana ya? Makanya, ketika belum lulus, saya sudah sibuk cari pegangan, salah satunya dengan cari info kerja di career center," ungkap Dika.

Cerita Dika seperti angin sejuk di kala cerita tentang susah cari kerja beredar di mana-mana. Seorang sarjana yang baru lulus mungkin tidak usah senang dulu karena bisa jadi itu hanya menambah angka pengangguran Indonesia, atau riuhnya bursa tenaga kerja. Berdasarkan data Biro Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran terbuka di Indonesia pada Februari 2007, masih di atas 10 juta jiwa, tepatnya 9,75% dari angkatan kerja Indonesia, yaitu 10,55 juta jiwa.

**

PERGURUAN tinggi dan masyarakat pengguna lulusan --termasuk di dalamnya industri, bisa menyambung dengan baik, adalah harapan sejak dulu. Kira-kira dalam satu dekade terakhir, kebutuhan menjembatani dua dunia itu direspons oleh perguruan tinggi, salah satunya dengan membangun lembaga yang mengurusi pengembangan karier (career center). Sejauh mana perannya?

Menurut Shanka, Ketua Career Development Center (CDC) STT Telkom yang berdiri sejak tahun 2003, informasi lowongan kerja sebenarnya bisa didapat di mana-mana, dari mulai koran sampai website umum pencari kerja. Namun, berbeda dengan media lain, career center di kampus boleh dibilang lebih jelas jalinan kerja sama dengan industrinya --bahkan ada yang bersifat memorandum of understanding (MoU). "Lowongan kerja juga lebih spesifik sesuai keilmuan di kampus tersebut," ucap Shanka, ketika ditemui Kampus, Kamis (13/9).

Pada intinya, fungsi career center secara umum adalah mengelola informasi lowongan kerja dari perusahaan, untuk didistribusikan pada seluruh warga kampus yang membutuhkan. Kalau kawan Kampus rajin lewat ruangan career center di kampus masing-masing, biasanya ada semacam mading (majalah dinding) berisi artikel bertema positive thinking, motivasi, rahasia sukses, dan tentunya informasi lowongan kerja. Namun, tidak semua mahasiswa sempat melongok ke sana. Nah, jalan keluarnya kini sudah banyak career center membuka dan melayani segala sesuatu via website, dari mulai melihat update informasi lowongan kerja atau pengumuman panggilan, mendaftar menjadi member, menyerahkan CV atau fotokopi transkip nilai, dsb. "Kini kami mengutamakan via online karena lebih efisien," kata Shanka.

Data terakhir tahun 2007, kata Shanka, masa tunggu alumni STT Telkom setelah lulus untuk mendapat kerja, adalah lima setengah bulan. Itu adalah gabungan kontribusi CDC ataupun berkat usaha alumninya sendiri. "Tahun lalu masa tunggu sekitar enam setengah bulan. Kita akan selalu berusaha semakin memperpendek masa itu," ucap Shanka.

Rata-rata career center di kampus-kampus punya program berkisar bursa kerja, pelatihan, rekrutmen, dan kerja praktik, bekerja sama dengan ratusan perusahaan. Salah satu program cukup menarik dari CDC STT Telkom, selain yang disebut tadi, adalah tracer study. "Kita melacak keberadaan alumni, untuk mendata penyebaran lulusan, rata-rata gaji, dsb. Selain itu, kita juga datang ke perusahaan untuk menjalin relasi dan meminta feedback. Sampai kini, kita sudah datengin 50 perusahaan," ucap Shanka.

Di Job Placement and Assessment Center (JPAC) kampus Polban, seperti dituturkan Dyah, administratur umum JPAC Polban, ada juga pelatihan kewirausahaan. Alasannya, ia menyadari mungkin tidak semua mahasiswa ingin menjadi pegawai. Untuk mengisi pelatihan seputar kewirausahaan itu, biasanya JPAC mengundang pelaku bisnis yang sukses.

Ketika bertandang ke JPAC, Kamis (13/9), Kampus menemui Iwan, mahasiswa Teknik Sipil 2004, yang tengah bertanya tentang perbandingan keunggulan di antara dua perusahaan. Ya, career center sebenarnya juga berfungsi sebagai tempat konsultasi karier, bahkan terbuka untuk seluruh mahasiswa tingkat berapa pun, bukan tingkat akhir saja. Sebab, sukses karier dimulai sejak masuk, bukan hanya ketika (mau) lulus. "Mahasiswa memang suka confused soal karier, tapi tidak semua cerita ke sini. Kalau berkaca pada tahun 2006, ada 200 dari 1.000 (25%) orang yang lolos lewat rekrutmen JPAC, maka tahun ini kita menaikkan sampai 40%. Namun, untuk menaikkan lagi target itu, rasanya belum mungkin sebab mahasiswa yang aktif datang atau ikut pelatihan,kurang dari 50%," urai Dyah.

Interaksi terus-menerus tentang dunia kerja yang profesional diharapkan merangsang mahasiswa untuk merancang masa depannya lebih dini. Pembekalan berupa berbagai workshop juga dilakukan oleh Professional Community Alumni Development (PCAD) ITB, berdiri tahun 1999, yang banyak memberikan pelatihan nonteknikal, seperti cara menyusun surat lamaran, trik wawancara, dsb. Kegiatan rutin PCAD antara lain, free friday lessons selama 4 bulan setiap tahun, career days, sampai sharing dengan industri.

Namun, menurut Aryo Prawoto, Ketua PCAD ITB, sayangnya, peserta pelatihan itu dari tahun ke tahun cenderung menurun. Padahal, menurutnya, PCAD sudah memakai instruktur dari luar kampus agar tidak membosankan, yaitu langsung pelaku industrinya. Ia menebak, mungkin mahasiswa sibuk banyak tugas atau mungkin PCAD yang kurang promo. ”Tapi sepertinya cukup pengumuman di website dan baliho," ucap Aryo, Selasa (18/9).

Keengganan mahasiswa terlibat penuh dalam berbagai kegiatan yang digelar career center, salah satunya adalah kendala biaya. Seperti yang dikatakan Indra, lulusan Teknik Kimia ITB 2002. "Harapannya sih tidak perlu bayar member karena seharusnya ini bagian dari fasilitas kampus," ucap Indra, yang mengakui di luar itu, career center sebenarnya bermanfaat bagus. Sementara Pindo, mahasiswa Teknik Sipil Polban 2004, memberi masukan agar lebih banyak lagi bekerja sama dengan instansi pemerintah dan swasta. "Update website juga jangan telat," katanya.

Menurut pakar pendidikan Ichsan S. Putra, career center selama ini memang belum mampu menjangkau student body secara maksimal. Agar dampak program career center lebih meluas, seluruh elemen kampus harus mendukungnya. Yang jelas, kata dia, keberadaan career center sebaiknya ada di tiap kampus, sebagai upaya penyaluran lulusan dan menjalin relasi dengan industri. ***

dewi irma
kampus_pr@yahoo.com

Kampus IT Telkom  Jl.Telekomunikasi, Dayeuh Kolot, Bandung, Indonesia 40257
Tel.62-22-756 4108, Fax.62-22 756 5200   Copyright ©2008-2010 SISFO IT Telkom. All Right Reserved.